Sentra Batik berawal dari anggota komunitas Batik Jawa Timur yang menjadi penggerak kelompok batik di Dukuh Kupang,
terbentuk suatu usaha yang disebut sentra batik tulis. Awalnya
komunitas ini memberikan sebuah pelatihan biasa kepada Ibu-ibu setempat
dikawasan Dukuh Kupang. Karena iseng mempromosikan produk mereka, maka
dibentuklah suatu sentra dengan Batik Tulis. Tanpa disadari ternyata
Batik Tulis sudah mendapatkan tempat di hati masyarakat, sehingga omset
untuk bisnis tersebut semakin lama semakin bertambah. Produk tersebut meliputi baju batik orang dewasa, anak, daster, kemeja, dress, atasan maupun celana dan rok batik.
Peran Disperdagin Kota Surabaya terhadap perkembangan usaha batik tulis diantaranya adalah, Pelatiahn Batik Tulis, Pelatihan Pewarnaan Batik,
Sosialisasi Merek dan Batik Mark, Pembukuan sederhana dan kewirausahaan
hingga pemasaran produk batik dengan mengikuti even-even yang
diselenggarakan Pemkot Surabaya, Pemerintah Provinsi maupun Kementrian Perindustrian.
Semula membatik hanya dilakukan di sela kesibukan sehari - hari warga sebagai buruh dan petani sehingga tidak ada target. Namun berbekal niat meneruskan warisan nenek moyang, kini semua itu berubah. Pola pekerjaan sampingan pun beralih menjadi pekerjaan utama yang dipadu dengan keahlian yang dimiliki. Sejumlah perajin mengaku mendapatkan penghasilan lebih tinggi dari produksi batik yang dikerjakannya. Perajin juga memproduksi baju, gamis, kulot, baju anak hingga baju pria dan kini batik Pamekasan tak hanya diminati di dalam negeri, wisatawan mancanegara pun mulai mengoleksinya.
Batik Pamekasan dikenal banyak orang dengan berbagai cara. Diantaranya, turis asing yang berkesempatan datang ke Madura. Atau sejumlah pedagang yang dengan jaringan sesama pedagang yang kemudian mengenalkan produk lokal khas Madura itu ke luar negeri. Selebihnya, keberadaan batik Pamekasan menyebar lewat cerita, dari mulut ke mulut hingga ke mancanegara. Pangsa pasar yang mulai terbuka dimanfaatkan betul oleh Pemerintahan Kabupaten Pamekasan. Lewat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, Pemkab meluncurkan bantuan modal kepada Usaha Mikro Kecil dan menengah. Kucuran dana ini diharapkan mengangkat potensi lokal kerajinan batik. Pemkab juga membentuk kelompok - kelompok sentra pengrajin. Sehingga Pemkab nisa menyalurkan bantuan lewat kredit lunak.
Motif Baju Batik Keraton Sumenep merupakan motif non geometris yang menggabungkan unsur isen - isen pada latar tanahan. Ornamen yang diambil meliputi burung, kupu - kupu, berbagai dedaunan dan bunga. Munculnya ornamen hewan laut yang digambarkan sangat jelas seperti bentuk udang, kepiting, ikan hingga ganggang banyak dijumpai pada motif baju batik Madura. Beberapa baju batik Keraton Sumenep dengan pengaruh Mataram diantaranya motif sabuk rantay yang popular dibuat di Sampang, motif ini banyak memiliki kemiripan dengan motif semen rante, sekar jagad bnayk sekali kemiripan dengan skear jagad dari Jawa.
Batik Sumenep ini bisa menggunakan lebih dari 2 warna, minimal 3 wara dalam satu lembar kain batik Sumenep. Namun, soal warna khusus seperti batik Semarang yang dominan warna merah dan kuning. Uniknya lagi, dalam satu k
ain banyak yang terditi dari beberapa motif. Mulai dua hingga tiga motif dalam satu kain. Walaupun terlihat ramai, tetapi kombinasi motifnya tetap terlihat harmonis, dan cocok digunakan. Beberapa motif favoritnya ialah beras tumpah, motif alam dedaunan, bunga tulip, burung garuda dan burung merak.